Kamis, 26 September 2013 | 16:16:14 WIB Oleh : Feryna

Kurang Promosi, Pedagang pun Ikut Rugi

Kurang Promosi, Pedagang pun Ikut Rugi
© GarudaSoccer.com

GarudaSoccer.com – Sejatinya gawean besar seperti turnamen, apalagi yang sifatnya internasional semacam Indonesian Internasional Tournament (IIT) - Piala Menpora 2013 yang berlangsung di Kabupaten Malang menjadi berkah tersendiri bagi para Pedagang Kaki 5 (PK-5) di sekitar Stadion Kanjuruhan. Namun alih-alih mendapat omset besar, justeru banyak pedagang yang mengaku merugi.

Pasangan suami istri Hayi dan St, Rokhaya, misalnya. Penjual pernak-pernik dan baju kaos Arema yang berjualan di sekitar Stadion Kanjuruhan ini mengaku hanya omset yang didapat sejak pergelaran IIT Piala Menpora sekitar Rp 300 sampai Rp 400 ribu. Itu pun, tidak tiap hari.

Ia mengaku omset yang didapat sangat jauh berbeda jika Arema menjamu lawannya di Indonesia Super League (ISL). Biasanya omset yang didapat hasil penjualan baju kaos Arema dan berbagai pernak-pernak Arema bisa mencapai antara Rp 3 juta sampai Rp juta sekali pertandingan.

''Jauh bedanya Mas. Selama Piala Menpora ini pendapatan kami hanya Rp 300-an sampai Rp 400-an ribu. Malah pernah hanya dapat Rp 200 ribu. Rugi. Itu hanya untuk ongkos sewa mobil pick-up saja. Kalau Arema main di ISL, wah rame Mas. Bisa dapat Rp 3 juta sampai Rp 5 juta. Apalagi kalau lawannya Persib Bandung atau Persija. Penonton Aremania banyak yang datang. Stadion sampai ngga cukup,'' jelas Hayi.

Ia menyebut penyebab kurangnya animo masyarakat ke Stadion Kanjuruhan akibat kurangnya promosi yang dilakukan pihak panitia. Padahal, kata dia kehadiran tim luar negeri seharusnya bisa menjadi barang jualan oleh panitia.

''Sepertinya itu tidak dilakukan. Kurang promosi kayanya Mas. Beda kalau Arema main di pertandingan ISL. Pokoknya ramai. Sampai-sampai banyak penonton yang tidak tertampung di dalam stadion,'' katanya.

Hayi mengaku berjualan di Stadion Kanjuruhan sejak tahun 1988. Bila tidak ada pertandingan ia mengelola usaha percetakan sablon baju dan bendera di rumahnya. Baju kaos yang dibelinya dari Jakarta disablon sendiri, yang jadi produk jualannya. Ia dibantu istrinya St Rokhaya dan tiga anaknya.

Dari usahanya itu ia mampu menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya. Bahkan yang sulung kini telah kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Malang. "Yang pertama kuliah di jurusan informatika. Bulan depan ia bersama 10 kawannya PKL di Istana negara. Yang kedua kelas dua SMU. Anak saya yang bungsu baru kelas dua SMP'' kata Hayi, tanpa bisa menutupi rasa bangganya.


Selain mengelola los jualannya berukuran 2 x 2 meter itu keluarga kecil ini juga menerima orderan baju, syal, bendera dan pernak-pernik suporter dari beberapa kota di Indonesia. Diantaranya pesanan dari Makassar dan Kalimantan. Juga ada yang dari Sumatera.


''Saya selalu kirim baju suporter PSM Makassar ke Sulawesi, Mas. Selain itu juga banyak permintaan dari Samarinda dan Balikpapan di Kalimantan. Juga dari Sumatera,'' jelas PK-5 berusaia 53 tahun itu. Semasa mudanya juga pernah aktip memimpin suporter Aremania.


Nasib Hayi pun dirasakan PK-5 lainnya. Suhari, penjual bakso dan mie pangsit gerobak dan Ibu Lina, penjual es dawet, misalnya. Pendapatannya kali ini juga menurun drastis. ''Sekarang paling banyak dapat Rp 300-an Mas. Kalau Arema main di ISL bisa dapat Rp 1 juta lebih,'' kata ayah dua anak ini.


Hal senada juga dirasakan Ibu Lina. Penghasilan perempuan setengah baya ini malah lebih sedikit lagi. Selama tiga pertandingan sejak Piala Menpora di gelar di Malang penghasilan yang didapat dari jualan es dawet, minuman ringan dan rokok baru Rp 400-an ribu.


Para PK-5 ini berharap laga final antara Arema vs Central Coast Mariners, salah satu tim papan atas liga Australia bisa menjadi puncak penjualan terpesar mereka di Menpora Cup. (sri)